Anambas, Jurnalsidik.com — Di sebuah warung kopi sederhana di sudut Desa Tarempa Barat, suasana Selasa pagi (14/10) itu awalnya tampak biasa. Asap kopi mengepul, obrolan santai mengalir dari meja ke meja. Namun siapa sangka, dari tempat sederhana itu lahir sebuah kisah yang menyentuh hati tentang kepedulian dan kemanusiaan.
Dua anggota kepolisian, Aipda Jack Marulam Siahaan dan Aipda Bernard Hamonangan Siahaan, saat itu hanya berniat singgah sejenak untuk menikmati secangkir kopi panas. Namun perhatian mereka tertuju pada sosok Hamadi — seorang warga Tarempa Barat yang berjalan perlahan, dengan tangan terbalut perban lusuh.Rabu(15/10/2025)
Hamadi baru saja keluar dari rumah sakit. Tubuhnya tampak lemah, tetapi sorot matanya menyimpan semangat untuk terus bertahan. Melihat kondisi tersebut, Aipda Jack bangkit dari kursinya dan menyapa Hamadi dengan senyum ramah, lalu mengajaknya duduk bersama.
Tanpa formalitas, perbincangan hangat pun mengalir. Tak lama kemudian, Aipda Bernard mengeluarkan satu paket sembako dari dalam tas. Bungkusan sederhana itu ia serahkan dengan dua tangan bukan sebagai belas kasihan, melainkan bentuk kepedulian sesama manusia.
“Kami hanya ingin sedikit membantu, Bang. Semoga bisa meringankan kebutuhan sehari-hari,” ujar Aipda Jack dengan suara lirih.

Hamadi sempat terdiam. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan haru.
“Saya tidak menyangka… di warung kopi ini, saya bisa dapat perhatian seperti ini,” ucapnya pelan.
Bagi dua anggota polisi itu, momen kecil tersebut bukan sekadar pemberian bantuan. Lebih dari itu, ini adalah cara mereka menjaga nilai kemanusiaan dalam setiap langkah tugas.
“Kadang, sekadar duduk bersama dan memberi semangat jauh lebih berharga dari apa pun,” ungkap Aipda Bernard, menatap langit Tarempa yang mulai redup.
Di tengah rutinitas dan kesibukan, kisah sederhana ini menjadi pengingat: kebaikan tidak butuh panggung besar. Ia cukup lahir dari hati yang peduli, secangkir kopi, dan uluran tangan yang tulus.
Hamadi menggenggam erat paket sembako itu, air matanya menetes pelan. Di warung kopi kecil itulah, dua polisi dan satu warga saling bertemu dalam ruang kemanusiaan yang sesungguhnya.
(Agus Suradi / Jurnalsidik.com)
